{"id":7090,"date":"2025-02-20T10:46:39","date_gmt":"2025-02-20T03:46:39","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/?p=7090"},"modified":"2025-02-20T10:46:39","modified_gmt":"2025-02-20T03:46:39","slug":"dari-k-drama-ke-realita-penyebaran-budaya-makanan-dan-gaya-busana-korea-dalam-perspektif-komunikasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/2025\/02\/20\/dari-k-drama-ke-realita-penyebaran-budaya-makanan-dan-gaya-busana-korea-dalam-perspektif-komunikasi\/","title":{"rendered":"Dari K-Drama ke Realita: Penyebaran Budaya Makanan dan Gaya Busana Korea dalam Perspektif Komunikasi"},"content":{"rendered":"<p>Di era globalisasi, <strong>media sebagai alat komunikasi budaya<\/strong> telah memainkan peran penting dalam menyebarluaskan nilai-nilai budaya suatu negara. Salah satu fenomena yang mencerminkan hal ini adalah kepopuleran <strong>K-Drama (Korean Drama)<\/strong> yang tidak hanya menghibur, tetapi juga berfungsi sebagai media komunikasi budaya yang memperkenalkan gaya busana dan makanan khas Korea Selatan ke seluruh dunia.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-7091 aligncenter\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Gambar2-9.jpg\" alt=\"\" width=\"323\" height=\"220\" \/><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-7092 aligncenter\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Gambar1-12-640x427.jpg\" alt=\"\" width=\"319\" height=\"212\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><span style=\"font-size: 10pt\"><em><span class=\"TextRun SCXW157652478 BCX0\" lang=\"EN-ID\" xml:lang=\"EN-ID\" data-contrast=\"auto\"><span class=\"NormalTextRun SpellingErrorV2Themed SCXW157652478 BCX0\" data-ccp-parastyle=\"Normal (Web)\">Sumber<\/span><span class=\"NormalTextRun SCXW157652478 BCX0\" data-ccp-parastyle=\"Normal (Web)\"> :<\/span> <span class=\"NormalTextRun SpellingErrorV2Themed SCXW157652478 BCX0\" data-ccp-parastyle=\"Normal (Web)\">TvN<\/span><\/span><span class=\"EOP SCXW157652478 BCX0\" data-ccp-props=\"{&quot;134233117&quot;:true,&quot;134233118&quot;:true,&quot;201341983&quot;:0,&quot;335551550&quot;:6,&quot;335551620&quot;:6,&quot;335559740&quot;:360}\">\u00a0<\/span><\/em><\/span><\/p>\n<p>Melalui berbagai adegan dan alur cerita, <strong>K-Drama menjadi medium komunikasi yang efektif dalam membentuk persepsi, menanamkan citra budaya, serta mempengaruhi kebiasaan konsumsi dan gaya hidup masyarakat global.<\/strong> Artikel ini akan menganalisis bagaimana penyebaran budaya makanan dan fashion Korea melalui K-Drama dapat dijelaskan dalam konteks komunikasi.<\/p>\n<ol>\n<li><strong> K-Drama Sebagai Alat Komunikasi Antarbudaya<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Komunikasi antarbudaya (intercultural communication) merupakan proses di mana pesan dan nilai-nilai budaya dari satu komunitas disampaikan kepada komunitas lain. Dalam konteks ini, K-Drama menjadi media komunikasi massa yang efektif dalam membangun pemahaman lintas budaya.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Teori Komunikasi Naratif (Narrative Paradigm \u2013 Walter Fisher)<\/strong><br \/>\nTeori ini menjelaskan bahwa manusia memahami dan merespons dunia melalui narasi. K-Drama sebagai bentuk komunikasi naratif memungkinkan audiens untuk terhubung secara emosional dengan budaya Korea melalui cerita yang ditampilkan.<\/li>\n<li><strong>Media sebagai Soft Power<\/strong><br \/>\nMenurut teori soft power oleh Joseph Nye, media hiburan seperti K-Drama dapat digunakan sebagai alat diplomasi budaya yang secara tidak langsung memperkenalkan kebiasaan, gaya hidup, dan nilai-nilai Korea Selatan kepada audiens global.<\/li>\n<\/ul>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-7093 aligncenter\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Gambar3-7.jpg\" alt=\"\" width=\"492\" height=\"277\" srcset=\"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/sites\/90\/2025\/02\/Gambar3-7.jpg 492w, https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/sites\/90\/2025\/02\/Gambar3-7-300x169.jpg 300w, https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/sites\/90\/2025\/02\/Gambar3-7-480x270.jpg 480w\" sizes=\"(max-width: 492px) 100vw, 492px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em><span style=\"font-size: 10pt\">Sumber : Netflix<\/span><\/em><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong> Fashion dalam K-Drama: Komunikasi Identitas dan Tren Global<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Fashion dalam K-Drama bukan sekadar elemen estetika, tetapi juga merupakan <strong>bentuk komunikasi identitas<\/strong>. Setiap karakter dalam drama menyampaikan kepribadian, status sosial, dan emosi melalui pakaian yang mereka kenakan.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Hanbok sebagai Representasi Budaya<\/strong><br \/>\nDalam drama bergenre <em>saeguk<\/em> (drama sejarah), penggunaan hanbok berfungsi sebagai komunikasi simbolik yang menggambarkan warisan budaya Korea. Penggunaan pakaian tradisional ini dalam K-Drama tidak hanya melestarikan identitas nasional, tetapi juga menumbuhkan ketertarikan global terhadap budaya Korea.<\/li>\n<li><strong>Korean Style dan Komunikasi Nonverbal<\/strong><br \/>\nDalam K-Drama modern, fashion menjadi bagian dari komunikasi nonverbal yang mengungkap status sosial, preferensi, dan bahkan dinamika karakter. Tren <strong>&#8220;Korean Style&#8221;<\/strong> yang muncul dari drama seperti <em>Crash Landing on You<\/em> atau <em>Goblin<\/em> menjadi bentuk komunikasi visual yang berdampak pada audiens internasional.<\/li>\n<li><strong>Efek K-Drama dalam Teori Imitasi (Imitation Theory \u2013 Gabriel Tarde)<\/strong><br \/>\nMenurut teori ini, manusia cenderung meniru perilaku yang mereka lihat di media. K-Drama menciptakan tren fashion yang diikuti oleh penonton global, mengubah kebiasaan berpakaian dan gaya hidup mereka.<\/li>\n<\/ul>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong> Kuliner dalam K-Drama: Media Komunikasi Rasa dan Budaya<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Selain fashion, makanan khas Korea juga menjadi bagian dari komunikasi budaya yang ditampilkan dalam K-Drama. Melalui adegan makan, ekspresi aktor, dan narasi cerita, makanan bukan hanya sebagai latar, tetapi juga sebagai <strong>alat komunikasi emosional dan sosial<\/strong>.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Komunikasi Sosial Melalui Makanan<\/strong><br \/>\nDalam budaya Korea, makan bersama adalah bagian penting dari komunikasi interpersonal. K-Drama sering menampilkan adegan makan sebagai simbol kebersamaan dan kehangatan keluarga, seperti dalam drama <em>Let&#8217;s Eat<\/em> atau <em>Hospital Playlist<\/em>.<\/li>\n<li><strong>Penyebaran Kuliner Melalui Media \u2013 Teori Agenda Setting<\/strong><br \/>\nTeori ini menjelaskan bahwa media memiliki kekuatan untuk mengarahkan perhatian publik pada isu tertentu. Dengan seringnya makanan Korea muncul dalam K-Drama, perhatian audiens global tertuju pada kuliner Korea, sehingga memicu tren konsumsi makanan Korea di berbagai negara.<\/li>\n<li><strong>Food Symbolism dalam Komunikasi Budaya<\/strong><br \/>\nMakanan tertentu dalam K-Drama memiliki makna simbolik. Misalnya, <strong>ramyeon<\/strong> sering kali dikaitkan dengan kencan atau hubungan romantis, sementara <strong>kimchi<\/strong> melambangkan identitas nasional Korea.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Fenomena kepopuleran K-Drama tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga memainkan peran penting dalam <strong>komunikasi budaya dan penyebaran tren global<\/strong>. Melalui fashion dan makanan yang ditampilkan, K-Drama berfungsi sebagai medium komunikasi lintas budaya yang memperkenalkan gaya hidup Korea kepada dunia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di era globalisasi, media sebagai alat komunikasi budaya telah memainkan peran penting dalam menyebarluaskan nilai-nilai budaya suatu negara. Salah satu fenomena yang mencerminkan hal ini adalah kepopuleran K-Drama (Korean Drama) yang tidak hanya menghibur, tetapi juga berfungsi sebagai media komunikasi budaya yang memperkenalkan gaya busana dan makanan khas Korea Selatan ke seluruh dunia. Sumber : [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7091,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-7090","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-creative-communication"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7090"}],"collection":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7090"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7090\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7091"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7090"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7090"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7090"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}