{"id":7121,"date":"2025-02-20T11:41:56","date_gmt":"2025-02-20T04:41:56","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/?p=7121"},"modified":"2025-02-20T11:41:56","modified_gmt":"2025-02-20T04:41:56","slug":"bagaimana-drama-korea-mengubah-cara-orang-berkomunikasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/2025\/02\/20\/bagaimana-drama-korea-mengubah-cara-orang-berkomunikasi\/","title":{"rendered":"Bagaimana Drama Korea Mengubah Cara Orang Berkomunikasi"},"content":{"rendered":"<p>Drama Korea, atau K-Drama, telah merambah ke seluruh dunia, membawa lebih dari sekadar hiburan. Dalam beberapa tahun terakhir, popularitas K-Drama tidak hanya mengubah tren menonton, tetapi juga mempengaruhi cara orang berkomunikasi, baik di media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan data yang ada bahkan ada lebih dari 50 juta orang di seluruh dunia menonton drama Korea pada 2024, menunjukkan dampak besar yang dimiliki budaya ini.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-7124 aligncenter\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Gambar17.jpg\" alt=\"\" width=\"540\" height=\"339\" srcset=\"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/sites\/90\/2025\/02\/Gambar17.jpg 540w, https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/sites\/90\/2025\/02\/Gambar17-300x188.jpg 300w, https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/sites\/90\/2025\/02\/Gambar17-480x301.jpg 480w\" sizes=\"(max-width: 540px) 100vw, 540px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><span style=\"font-size: 10pt\"><em>Sumber: kNet<\/em><\/span><\/p>\n<p>Bukan hanya soal cerita yang menggugah emosi, tetapi gaya komunikasi dalam drama Korea juga menjadi inspirasi. Dari cara karakter saling mengungkapkan perasaan hingga bagaimana mereka menyelesaikan konflik, semuanya memiliki daya tarik tersendiri. Banyak penonton yang mulai menggunakan kosakata Korea, seperti &#8220;saranghae&#8221; (aku cinta padamu) dan &#8220;aigoo&#8221; (ungkapan keheranan), dalam percakapan sehari-hari.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-7123 aligncenter\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Gambar18.jpg\" alt=\"\" width=\"359\" height=\"239\" srcset=\"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/sites\/90\/2025\/02\/Gambar18.jpg 359w, https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/sites\/90\/2025\/02\/Gambar18-300x200.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 359px) 100vw, 359px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><span style=\"font-size: 10pt\">Sumber: kNet<\/span><\/p>\n<p>Selain itu, drama Korea mengajarkan pentingnya komunikasi non-verbal, seperti bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan tatapan mata, yang semakin populer dalam interaksi digital, seperti video call atau media sosial. K-Drama, dengan keunikan cara komunikasinya, tak hanya memberikan hiburan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai hubungan manusia yang lebih dalam.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Drama Korea, atau K-Drama, telah merambah ke seluruh dunia, membawa lebih dari sekadar hiburan. Dalam beberapa tahun terakhir, popularitas K-Drama tidak hanya mengubah tren menonton, tetapi juga mempengaruhi cara orang berkomunikasi, baik di media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan data yang ada bahkan ada lebih dari 50 juta orang di seluruh dunia menonton drama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7124,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-7121","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-creative-communication"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7121"}],"collection":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7121"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7121\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7124"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7121"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7121"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7121"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}