{"id":7525,"date":"2025-03-26T15:03:49","date_gmt":"2025-03-26T08:03:49","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/?p=7525"},"modified":"2025-03-26T15:03:49","modified_gmt":"2025-03-26T08:03:49","slug":"blockchain-apakah-sudah-mati-atau-justru-masuk-era-baru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/2025\/03\/26\/blockchain-apakah-sudah-mati-atau-justru-masuk-era-baru\/","title":{"rendered":"Blockchain: Apakah Sudah Mati atau Justru Masuk Era Baru?"},"content":{"rendered":"<p>Masih ingat masa-masa di mana semua orang bicara soal <strong>blockchain<\/strong> dan <strong>crypto<\/strong>? Timeline media sosial dipenuhi istilah seperti Bitcoin, NFT, dan DeFi. Tapi sekarang? Banyak yang bertanya-tanya: <em>\u201cApakah hype blockchain sudah lewat?\u201d<\/em> Jawabannya: <strong>belum.<\/strong> Justru, blockchain sedang masuk ke tahap yang lebih serius dan berguna\u2014dan Gen Z harus tahu tentang ini!<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-7526 aligncenter\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/Gambar7.png\" alt=\"\" width=\"455\" height=\"455\" srcset=\"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/sites\/90\/2025\/03\/Gambar7.png 468w, https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/sites\/90\/2025\/03\/Gambar7-300x300.png 300w, https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/sites\/90\/2025\/03\/Gambar7-150x150.png 150w\" sizes=\"(max-width: 455px) 100vw, 455px\" \/><span style=\"font-size: 10pt\">Gambar 1. Illustration of blockchain. (Disclaimer: This image is AI-generated using DALL\u00b7E)<\/span><\/p>\n<p><strong>Masalah Lama: Blockchain Itu Lemot dan Mahal?<\/strong><\/p>\n<p>Salah satu keluhan terbesar tentang blockchain publik seperti Bitcoin dan Ethereum dulu adalah: <strong>transaksinya lambat dan biayanya mahal.<\/strong> Bayangin aja, untuk beli NFT kopi, kamu bisa kena biaya transaksi yang lebih mahal dari harga kopinya.<\/p>\n<p>Nah, untuk ngatasin masalah ini, para pengembang mulai beralih dari sistem lama yang disebut <strong>Proof of Work (PoW)<\/strong> ke <strong>Proof of Stake (PoS)<\/strong>. PoS jauh lebih cepat, lebih hemat energi, dan ramah lingkungan\u2014sesuai banget sama gaya hidup Gen Z yang makin peduli keberlanjutan. Tapi tunggu dulu, PoS bukan obat mujarab juga.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Proof of Stake Masih Punya PR<\/strong><\/p>\n<p>Meskipun lebih efisien, PoS punya tantangan tersendiri. Misalnya, makin besar token yang kamu pegang, makin besar kekuatan kamu dalam sistem. Akibatnya, sistem bisa jadi terlalu dikendalikan oleh &#8220;whale&#8221; atau pemilik modal besar. Ini bikin blockchain kehilangan nilai awalnya: <strong>desentralisasi.<\/strong><\/p>\n<p>Selain itu, masih ada isu seperti:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Interoperabilitas<\/strong> antar jaringan blockchain (gimana biar Ethereum bisa \u2018ngobrol\u2019 sama jaringan lain).<\/li>\n<li><strong>Risiko smart contract<\/strong> yang bisa dieksploitasi kalau nggak diuji dengan baik.<\/li>\n<li><strong>Pengalaman pengguna (UX)<\/strong> yang kadang bikin orang awam mikir dua kali buat pakai.<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Solusi Baru: Bukan Blockchain Publik, Tapi Blockchain Konsorsium!<\/strong><\/p>\n<p>Kalau kamu pikir semua blockchain itu publik dan terbuka, saatnya kenalan dengan <strong>blockchain konsorsium.<\/strong> Salah satu contohnya adalah <strong>Hyperledger<\/strong>, proyek open-source yang dikembangkan bareng-bareng oleh perusahaan dan organisasi besar.<\/p>\n<p>Apa bedanya?<\/p>\n<ul>\n<li>Blockchain publik: semua orang bisa akses dan ikut verifikasi transaksi. Contoh: Bitcoin, Ethereum.<\/li>\n<li>Blockchain konsorsium: hanya grup tertentu yang punya izin akses. Lebih privat, lebih cepat, dan lebih cocok buat dunia bisnis.<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Kelebihan Blockchain Konsorsium (dan Kekurangannya)<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u2705<\/strong><strong> Kelebihan:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li><strong>Cepat dan efisien<\/strong>, karena hanya sebagian node yang ikut validasi.<\/li>\n<li><strong>Privasi lebih terjaga<\/strong>, cocok buat data sensitif seperti supply chain atau dokumen legal.<\/li>\n<li><strong>Regulasi lebih mudah dipenuhi<\/strong>, karena akses dan kontrol lebih terstruktur.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>\u274c<\/strong><strong> Kekurangan:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li><strong>Kurang desentralisasi<\/strong>, karena dikelola oleh grup tertentu.<\/li>\n<li><strong>Butuh kepercayaan antar anggota<\/strong>, karena transparansi tidak sebebas blockchain publik.<\/li>\n<li><strong>Adopsi lebih lambat<\/strong> kalau tidak ada standardisasi.<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Potensi Blockchain: Dari Spekulasi ke Solusi Nyata<\/strong><\/p>\n<p>Meskipun hype awal blockchain sempat dipenuhi spekulasi harga kripto dan demam NFT, kini teknologi ini <strong>memasuki fase kedewasaan<\/strong>. Fokusnya mulai bergeser: bukan lagi tentang &#8220;cepat cuan&#8221;, tapi tentang <strong>bagaimana blockchain bisa menyelesaikan masalah nyata<\/strong> di dunia industri dan pemerintahan.<\/p>\n<p>Teknologi blockchain, terutama jenis <strong>blockchain konsorsium<\/strong> seperti <strong>Hyperledger Fabric<\/strong> dan <strong>Corda<\/strong>, kini sedang banyak diuji coba untuk kebutuhan seperti:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Manajemen rantai pasok (supply chain)<\/strong> yang transparan dan tidak bisa dimanipulasi.<\/li>\n<li><strong>Pengelolaan identitas digital<\/strong> yang aman dan terenkripsi.<\/li>\n<li><strong>Audit digital dan pelacakan dokumen<\/strong> secara otomatis dan terpercaya.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Ke depannya, kita akan melihat <strong>blockchain tidak berdiri sendiri<\/strong>, tapi justru berkolaborasi dengan teknologi lain seperti <strong>AI, Internet of Things (IoT), dan Big Data<\/strong>. Misalnya, sistem logistik berbasis sensor IoT bisa langsung menyimpan data secara real-time ke dalam blockchain, menciptakan alur data yang tak bisa dimanipulasi\u2014efisien, aman, dan transparan.<\/p>\n<p>Tak hanya itu, upaya untuk memperbaiki <strong>interoperabilitas antar blockchain<\/strong> dan <strong>standarisasi protokol global<\/strong> juga terus dilakukan. Ini penting agar berbagai jaringan blockchain yang berbeda bisa &#8220;berkomunikasi&#8221; dan saling terhubung, layaknya internet hari ini.<\/p>\n<p>Jadi, meskipun pembicaraan soal blockchain tidak se-riuh dulu, potensinya justru <strong>makin realistis dan menjanjikan.<\/strong> Ini adalah saat di mana blockchain benar-benar mulai digunakan, bukan hanya dibicarakan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt\"><strong>Referensi Valid:<\/strong><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-size: 10pt\">IBM. <em>What is Hyperledger Fabric?<\/em> <a href=\"https:\/\/www.ibm.com\/think\/topics\/hyperledger\">https:\/\/www.ibm.com\/think\/topics\/hyperledger<\/a>. Tanggal Akses: 28 Februari 2025\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-size: 10pt\">Ethereum Foundation. <em>The Merge<\/em>. <a href=\"https:\/\/ethereum.org\/en\/roadmap\/merge\/\">https:\/\/ethereum.org\/en\/roadmap\/merge\/<\/a>. Tanggal Akses: 28 Februari 2025.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-size: 10pt\">IBM. <em>What is blockhain?<\/em> <a href=\"https:\/\/www.ibm.com\/think\/topics\/blockchain\">https:\/\/www.ibm.com\/think\/topics\/blockchain<\/a>. Tanggal Akses: 28 Februari 2025.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masih ingat masa-masa di mana semua orang bicara soal blockchain dan crypto? Timeline media sosial dipenuhi istilah seperti Bitcoin, NFT, dan DeFi. Tapi sekarang? Banyak yang bertanya-tanya: \u201cApakah hype blockchain sudah lewat?\u201d Jawabannya: belum. Justru, blockchain sedang masuk ke tahap yang lebih serius dan berguna\u2014dan Gen Z harus tahu tentang ini! Gambar 1. Illustration of [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7526,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-7525","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-business-information-technology"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7525"}],"collection":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7525"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7525\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7526"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7525"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7525"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7525"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}