{"id":7768,"date":"2025-04-17T10:34:26","date_gmt":"2025-04-17T03:34:26","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/?p=7768"},"modified":"2025-04-17T10:34:26","modified_gmt":"2025-04-17T03:34:26","slug":"mengupas-teori-komunikasi-lewat-film-jumbo-memahami-ranah-komunikasi-dalam-karya-anak-bangsa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/2025\/04\/17\/mengupas-teori-komunikasi-lewat-film-jumbo-memahami-ranah-komunikasi-dalam-karya-anak-bangsa\/","title":{"rendered":"Mengupas Teori Komunikasi Lewat Film JUMBO: Memahami Ranah Komunikasi dalam Karya Anak Bangsa"},"content":{"rendered":"<p>Dalam dunia komunikasi, teori bukan hanya sekadar konsep abstrak di ruang kelas. Ia hidup dan berkembang dalam setiap interaksi manusia\u2014termasuk di medium populer seperti film. Salah satu karya yang mencerminkan dinamika komunikasi tersebut adalah film <em>Jumbo<\/em>, produksi kolaboratif anak bangsa yang menyajikan cerita menyentuh dengan pendekatan visual dan naratif yang kuat.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-7769 aligncenter\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Gambar3-2.jpg\" alt=\"\" width=\"613\" height=\"409\" srcset=\"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/sites\/90\/2025\/04\/Gambar3-2.jpg 613w, https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/sites\/90\/2025\/04\/Gambar3-2-300x200.jpg 300w, https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/sites\/90\/2025\/04\/Gambar3-2-480x320.jpg 480w\" sizes=\"(max-width: 613px) 100vw, 613px\" \/><span style=\"font-size: 10pt\">Sumber: Kompas.com<\/span><\/p>\n<p><strong>Film sebagai Cerminan Proses Komunikasi<\/strong><\/p>\n<p>Film <em>Jumbo<\/em> dapat dilihat sebagai sebuah medium komunikasi kompleks yang melibatkan berbagai elemen: pengirim pesan (sineas), pesan (naskah dan visual), saluran (media film), serta penerima (audiens). Dalam konteks ini, kita bisa menelusuri beberapa teori komunikasi klasik maupun modern yang berperan dalam membentuk makna dari film ini.<\/p>\n<p>Salah satunya adalah <strong>Model Shannon-Weaver<\/strong>, yang menggambarkan komunikasi sebagai proses linear dari pengirim ke penerima. Dalam film <em>Jumbo<\/em>, pesan utama tentang empati, keberanian, dan kerja sama dikemas melalui sinematografi yang kaya emosi. Namun, saat pesan tersebut ditafsirkan oleh penonton, ia menjadi bagian dari <strong>model komunikasi interaksional<\/strong> dan bahkan <strong>transaksional<\/strong>, karena audiens membawa konteks, latar budaya, dan pengalaman personal mereka masing-masing saat menonton.<\/p>\n<p><strong>Perspektif Sosiokultural dan Konstruktivisme dalam Film<\/strong><\/p>\n<p>Film juga menjadi wahana bagi <strong>teori komunikasi sosiokultural<\/strong>, yang memandang bahwa makna dibangun melalui interaksi sosial dan budaya. Karakter-karakter dalam <em>Jumbo<\/em> tidak hanya menjadi tokoh fiksi, tetapi representasi dari nilai-nilai budaya Indonesia seperti gotong royong, kesederhanaan, dan kekeluargaan. Melalui dialog dan konflik antar tokoh, penonton diajak untuk merefleksikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata.<\/p>\n<p>Sementara itu, dari perspektif <strong>konstruktivisme<\/strong>, komunikasi dipahami sebagai proses membentuk realitas sosial. <em>Jumbo<\/em> tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi juga membentuk pemahaman baru tentang pentingnya kreativitas, kolaborasi lintas generasi, dan kekuatan komunitas dalam menghadapi tantangan.<\/p>\n<p><strong>Film sebagai Ranah Komunikasi Multidisiplin<\/strong><\/p>\n<p>Tidak bisa dipungkiri, ranah komunikasi saat ini semakin luas dan multidisiplin. Film seperti <em>Jumbo<\/em> menyatukan berbagai aspek komunikasi\u2014visual, verbal, non-verbal, hingga komunikasi massa. Ia juga menunjukkan bagaimana teori-teori komunikasi dapat diimplementasikan dalam produksi kreatif yang berdampak secara sosial dan budaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-7770 aligncenter\" src=\"http:\/\/binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Gambar4-1.jpg\" alt=\"\" width=\"613\" height=\"345\" srcset=\"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/sites\/90\/2025\/04\/Gambar4-1.jpg 613w, https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/sites\/90\/2025\/04\/Gambar4-1-300x169.jpg 300w, https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-content\/uploads\/sites\/90\/2025\/04\/Gambar4-1-480x270.jpg 480w\" sizes=\"(max-width: 613px) 100vw, 613px\" \/><span style=\"font-size: 10pt\">Sumber: Bogordaily.net<\/span><\/p>\n<p>Film bukan hanya hiburan, tetapi juga instrumen reflektif. Melalui narasi dan simbol yang dihadirkan, penonton bisa memahami bagaimana komunikasi membentuk cara kita melihat dunia. Inilah kekuatan komunikasi dalam dunia kreatif: menghubungkan teori dan praktik, menginspirasi, dan menciptakan ruang dialog antarpenonton lintas generasi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam dunia komunikasi, teori bukan hanya sekadar konsep abstrak di ruang kelas. Ia hidup dan berkembang dalam setiap interaksi manusia\u2014termasuk di medium populer seperti film. Salah satu karya yang mencerminkan dinamika komunikasi tersebut adalah film Jumbo, produksi kolaboratif anak bangsa yang menyajikan cerita menyentuh dengan pendekatan visual dan naratif yang kuat. Sumber: Kompas.com Film sebagai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7769,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-7768","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-creative-communication"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7768"}],"collection":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7768"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7768\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7769"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7768"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7768"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bekasi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7768"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}