{"id":3381,"date":"2020-05-13T14:42:00","date_gmt":"2020-05-13T07:42:00","guid":{"rendered":"http:\/\/graduate.binus.ac.id\/?p=3381"},"modified":"2020-05-13T14:42:00","modified_gmt":"2020-05-13T07:42:00","slug":"4-poin-penting-dalam-penanganan-krisis-di-perusahaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/2020\/05\/13\/4-poin-penting-dalam-penanganan-krisis-di-perusahaan\/","title":{"rendered":"4 Poin Penting dalam Penanganan Krisis di Perusahaan"},"content":{"rendered":"<p>Menjalankan bisnis di perusahaan tidak terlepas dari yang namanya krisis. Terjadinya krisis memang sulit dihindari karena memang pada dasarnya mayoritas faktor penyebabnya tidak bisa dikontrol alias bersifat <em>uncontrol<\/em><em>l<\/em><em>able.<\/em><\/p>\n<p>Walau begitu, bukan berarti Anda bisa membiarkannya begitu saja. Sebaliknya, penanganan krisis wajib dilakukan dengan strategi yang tepat agar masalah bisa segera terselesaikan tanpa merusak <em>image <\/em>perusahaan di mata konsumen. Agar penanganan krisis bisa berjalan optimal, ada sejumlah poin penting yang perlu Anda perhatikan.<\/p>\n<p><strong>Responsif <\/strong><strong>d<\/strong><strong>an Transparan: Kunci Utama Penanganan Krisis<\/strong><\/p>\n<p>Saat krisis terjadi, <em>bad news <\/em>terkait perusahaan Anda akan cenderung lebih cepat meluas daripada <em>good news. <\/em>Ini karena memang pada dasarnya hal-hal yang negatif atau sensasional memiliki nilai jual atau daya tarik tersendiri. Di sisi lain, media umumnya mengabarkan suatu krisis sesuai perspektif masing-masing, sehingga <em>bad news <\/em>pun tidak terelakkan lagi.<\/p>\n<p>Sayangnya, ketika <em>bad news <\/em>mulai menyebar, masih banyak perusahaan yang cenderung memilih untuk diam. Mungkin mereka menilai bahwa dengan berdiam diri, <em>bad news <\/em>dan krisis bisa hilang dengan sendirinya karena akan muncul berita krisis lain yang menggantikannya. <em>Well, <\/em>bisa saja seperti itu.<\/p>\n<p>Namun, yang sering dilupakan adalah dengan berdiam diri, perusahaan tidak memiliki keterbukaan informasi kepada publik. Jangan heran jika akhirnya publik jadi punya persepsi negatif tentang perusahaan Anda.<\/p>\n<p>Jadi, apa yang harus Anda lakukan? Ada dua kunci, yaitu responsif dan transparan. Hal ini disampaikan oleh Dr. Ricardo Indra, M.Si., CPR, <em>General Manager Program Management Office (Transformation) \u2013 Communication &amp; Supporting<\/em> PT Telkomsel, dalam seminar online yang diadakan dalam rangka pembukaan program S2\/Magister Ilmu Komunikasi BINUS GRADUATE PROGRAM di BINUS @Bekasi pada 25 April 2020.<\/p>\n<p>Responsif bukan berarti gegabah. Sebelum menyediakan keterbukaan informasi terkait krisis, ciptakan dulu <em>key messages <\/em>berisi hal-hal yang akan Anda sampaikan ke publik. Melalui <em>key messages <\/em>inilah Anda bisa berusaha untuk mengendalikan persepsi publik terhadap perusahaan di kala krisis. Sementara itu, adanya keterbukaan informasi akan meningkatkan kepercayaan pada publik terhadap perusahaan Anda.<\/p>\n<p><strong>Pemetaan Dampak Krisis <\/strong><strong>y<\/strong><strong>ang Terjadi<\/strong><\/p>\n<p>Dalam seminar online bertajuk <em>\u201cSeeking the Opportunity from Setbacks, Bad News is Good News\u201d <\/em>tersebut, Indra juga menyampaikan pentingnya melakukan pemetaan krisis. Terjadinya krisis pasti memberikan dampak tersendiri pada perusahaan, baik itu pada tingkatan mikro<em>, <\/em>minor, medium, <em>major, <\/em>atau fatal. Ketika krisis menyerang, perusahaan sebaiknya langsung melakukan identifikasi, sudah sejauh mana dampak krisis tersebut terhadap perusahaan?<\/p>\n<p>Penanganan krisis dengan pemetaan akan membantu perusahaan untuk segera cepat bertindak. Hal ini sejalan dengan poin responsif yang disebutkan sebelumnya. Di samping itu, tindakan penanganan krisis yang cepat juga dapat mencegah terjadinya dampak yang lebih parah terhadap perusahaan.<\/p>\n<p>Namun, dampak krisis seperti apa yang bisa dikatakan mikro<em>, <\/em>minor, medium, <em>major, <\/em>atau fatal? Tiap perusahaan biasanya mempunyai kriteria masing-masing. Dengan kata lain, perusahaan wajib menetapkan parameter tingkat krisis agar proses analisis atau pemetaan bisa berjalan <em>smooth. <\/em>Umumnya, dampak krisis yang fatal adalah bila sampai mengganggu dan menghentikan jalannya bisnis.<\/p>\n<p><strong>Pentingnya <em>Spokeperson <\/em><\/strong><strong>d<\/strong><strong>engan <\/strong><strong>Kemampuan<\/strong> <strong>Komunikasi Baik<\/strong><\/p>\n<p>Penanganan krisis di perusahaan memang tidak dilakukan oleh satu orang saja. Baik pihak operasional, <em>corporate communication, <\/em>bahkan hingga <em>top management <\/em>pun biasanya ikut turun tangan menangani krisis. Walau begitu, tidak semuanya akan muncul untuk berkomunikasi dengan awak media atau publik.<\/p>\n<p>Idealnya, ada setidaknya satu orang yang ditunjuk sebagai <em>spokeperson <\/em>untuk menyampaikan pernyataan perusahaan terkait krisis yang sedang berlangsung.<\/p>\n<p>Masih dalam seminar <em>online <\/em>yang sama, Indra juga mengatakan bahwa penunjukan <em>spokeperson <\/em>ini tidak boleh dilakukan sembarangan. Pasalnya, kemampuan perusahaan dalam penanganan krisis akan dinilai dari kemampuan <em>spokeperson <\/em>saat menyampaikan informasi. Jangan sampai salah berbicara atau terbawa emosi karena bisa semakin memperparah <em>bad news <\/em>yang telah menyebar.<\/p>\n<p>Untuk mencegah hal tersebut, sekali lagi Indra menekankan bahwa identifikasi dan pemetaan krisis penting dilakukan. Kalau perlu, bentuk tim khusus untuk melakukannya. Berdasarkan hasil identifikasi, susun dokumen <em>briefing <\/em>berisi hal-hal yang harus disampaikan agar nantinya tidak melantur ke mana-mana.<\/p>\n<p>Perlu diingat pula bahwa <em>spokeperson <\/em>tidak hanya bertanggung jawab untuk komunikasi melalui <em>media interview <\/em>atau <em>news conference, <\/em>tetapi juga di kanal online seperti media sosial.<\/p>\n<p><strong>Sejumlah <em>Do\u2019s &amp; Don\u2019ts <\/em><\/strong><strong>d<\/strong><strong>alam Penanganan Krisis<\/strong><\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"284\"><strong>DO\u2019S<\/strong><\/td>\n<td width=\"284\"><strong>DON\u2019TS<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"284\">Jujur menyampaikan fakta.<\/td>\n<td width=\"284\">Berbohong, berasumsi, berspekulasi, melebih-lebihkan fakta.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"284\">Akui jika memang Anda tidak tahu sesuatu, tapi katakan bahwa Anda akan mencari tahu dan kembali memberikan informasi.<\/td>\n<td width=\"284\">Berpikir bahwa Anda harus menjawab setiap pertanyaan.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"284\">Jika ada kabar yang tidak benar, segera luruskan.<\/td>\n<td width=\"284\">Terlalu reaktif dan mudah terpancing dalam menjawab pertanyaan yang \u201cmenjebak\u201d.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"284\"><em>Be yourself, be passionate.<\/em><\/td>\n<td width=\"284\">Berulang kali menggunakan kata-kata atau kalimat negatif.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"284\">Tetap aktif mendengarkan media dan publik.<\/td>\n<td width=\"284\">Mengatakan <em>\u201cno comment\u201d <\/em>atau justru melantur ke mana-mana.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"284\">Gunakan analogi, metafor, dan perbandingan dalam menyampaikan penjelasan.<\/td>\n<td width=\"284\">Menjelek-jelekkan kompetitor.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"284\">Berhati-hati saat berbicara tentang angka atau uang.<\/td>\n<td width=\"284\">Membahas tentang hal-hal di luar area tanggung jawab Anda.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Berdiam diri bukanlah langkah tepat jika perusahaan Anda dilanda krisis. Sama saja Anda lari dari masalah sehingga merusak reputasi perusahaan. Krisis merupakan hal yang wajar terjadi dan harus Anda hadapi. Berusahalah tetap positif agar bisa responsif dan transparan dalam melakukan penanganan krisis. <em>Good luck!<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menjalankan bisnis di perusahaan tidak terlepas dari yang namanya krisis. Terjadinya krisis memang sulit dihindari karena memang pada dasarnya mayoritas faktor penyebabnya tidak bisa dikontrol alias bersifat uncontrollable. Walau begitu, bukan berarti Anda bisa membiarkannya begitu saja. Sebaliknya, penanganan krisis wajib dilakukan dengan strategi yang tepat agar masalah bisa segera terselesaikan tanpa merusak image perusahaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3382,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4,7,11,12],"tags":[],"class_list":["post-3381","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-event","category-greetings-event-commit-2013","category-news","category-slideshow-event-commit-2013"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3381"}],"collection":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3381"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3381\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3381"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3381"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3381"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}