{"id":4247,"date":"2022-05-02T15:12:11","date_gmt":"2022-05-02T08:12:11","guid":{"rendered":"https:\/\/graduate.binus.ac.id\/?p=4247"},"modified":"2022-05-02T15:12:11","modified_gmt":"2022-05-02T08:12:11","slug":"sejarah-singkat-tentang-kecerdasan-buatan-artificial-intelligence","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/2022\/05\/02\/sejarah-singkat-tentang-kecerdasan-buatan-artificial-intelligence\/","title":{"rendered":"Sejarah Singkat tentang Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/graduate.binus.ac.id\/files\/2022\/05\/Copy-of-BINUS-Sejarah-Singkat-tentang-Kecerdasan-Buatan-Artificial-Intelligence.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-4248 aligncenter\" src=\"https:\/\/graduate.binus.ac.id\/files\/2022\/05\/Copy-of-BINUS-Sejarah-Singkat-tentang-Kecerdasan-Buatan-Artificial-Intelligence.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"446\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Photo Credit: <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/photo\/robot-pointing-on-a-wall-8386440\/\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Tara Winstead (Pexels)<\/span><\/i><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Istilah kecerdasan buatan atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">artificial intelligence<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (AI) muncul pertama kali pada 1956 dalam Konferensi Dartmouth. Namun, sebetulnya konsep kecerdasan buatan ini sudah ditanamkan jauh sebelum itu. Para ahli dari masa ke masa telah melakukan penelitian untuk terus mengembangkan kecerdasan buatan ini.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dr. Lukas selaku dosen di BINUS UNIVERSITY sekaligus ketua dari Indonesia Artificial Intelligence Society (IAIS), membahas secara singkat perjalanan perkembangan kecerdasan buatan dari tahun ke tahun dalam acara Guest Lecture Program Studi Magister Teknik Informatika (MTI) BINUS\u00a0 GRADUATE PROGRAM. Berikut ulasannya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b><i>Artificial Intelligence<\/i><\/b><b> dari Tahun ke Tahun<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, benih kecerdasan buatan sudah ditanamkan sejak para filsuf mengeluarkan teori-teori yang menjadi landasan perkembangan kecerdasan buatan. Siapa sajakah para ahli tersebut dan apakah kontribusinya?<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li><b><i> Tahun 1900<\/i><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada sekitar tahun ini, muncul filsuf yang mengeluarkan teori-teori matematika yang menjadi landasan mesin komputer atau kecerdasan buatan. Beberapa filsuf tersebut adalah George Boole, Alfred North Whitehead, dan Bertrand A. W. Russell.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">George Boole adalah seorang matematikawan yang menemukan Aljabar Boolean. Ilmu ini menjelaskan operasi logika. Dengan aljabar ini, bisa dibuktikan nilai kebenaran <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">true<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">false<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang direpresentasikan dengan digit biner 0 dan 1, sama seperti bahasa yang digunakan mesin komputer saat ini. Semua data yang disimpan, diolah, dan disajikan oleh mesin komputer berbentuk angkan atau bit.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sementara itu, Alfred North Whitehead dan Bertrand A. W. Russell mengeluarkan sebuah mahakarya yang sangat penting bagi perkembangan kecerdasan buatan, yaitu Principia Mathematica atau disebut juga PM. PM mencoba menjelaskan aksioma atau kumpulan pernyataan serta aturan inferensi dalam bentuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">symbolic logic<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang belum bisa dibuktikan, tapi bisa menjadi landasan pemikiran logis.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Namun, karya tersebut sempat disanggah pada 1931 oleh G\u00f6edel yang mengeluarkan teori <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">incompleteness<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Dalam teori itu, ia menjelaskan bahwa PM tidak akan mungkin bisa menjelaskan segala sesuatu dengan lengkap karena akan selalu ada yang tidak sempurna.<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\" start=\"2\">\n<li><b><i> Tahun 1930<\/i><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada era 1930-an, muncullah Alan Turing, Claude Shannon, dan John von Neumann. Alan Turing adalah salah satu tokoh penting dalam perkembangan teknologi. Ia adalah penemu Turing Machine dan teori Tes Turing yang bisa menguji tingkat kecerdasan suatu mesin komputer. Pada era sekarang, Tes Turing dapat kita lihat pengaplikasiannya dalam fitur tes CAPTCHA<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sedangkan, Claude Shannon dikenal sebagai bapak dari teori informasi, teori yang lahir sebagai bentuk pengaplikasian Aljabar Boolean. Lalu, John von Neumann adalah orang yang merumuskan bahwa komputer harus dipisahkan menjadi dua bagian, yakni <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">hardware<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">software<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada era ini, para ahli membicarakan bagaimana komputer dapat merepresentasikan pengetahuan. Mesin komputer hanya akan bergerak jika sudah dimasukkan data. Para ahli memperdebatkan bagaimana cara memasukkan data-data tersebut ke dalam mesin agar mesin dapat belajar.<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\" start=\"3\">\n<li><b><i> Tahun 1950<\/i><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Perlu diingat bahwa memasuki era 1950-an, dunia sudah memiliki komputer digital. Komputer muncul pertama kali pada 1946 sesudah Perang Dunia II. Awalnya, komputer diciptakan di Amerika untuk keperluan perang, namun karena perang sudah berakhir, mesin komputer tersebut digunakan oleh Departemen Statistik untuk mengolah data besar demi kepentingan negara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Memasuki era 1950-an, muncullah John McCarthy, Marvin Lee Minsky, Herbert Alexander Simon, Allen Newell, dan Edward Albert Feigenbaum yang mulai merumuskan istilah AI. AI muncul pertama kali pada 1956 di pertemuan di Dartmouth. Kontribusi lainnya yang membawa perkembangan bagi komputer adalah bahasa LISP atau LISt Processing yang merupakan bahasa pemrograman tingkat tinggi klasik. Lalu, ada juga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Semantic Network and Frame,<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">expert system<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, serta <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">general problem solver<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\" start=\"4\">\n<li><b><i> Tahun 1980<\/i><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Era 1980-an dikenal juga sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">second wave of AI<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Para ahli yang berkontribusi dalam era ini adalah David Rumelhart, Lotfi Zadeh, John Holland, Lawrence Fogel, Ingo Rechenberg, dan John Koza. Hasil penemuan mutakhir di era ini adalah sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Learning of MLP<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Fuzzy logic<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Genetic algorithms<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Evolutionary programming<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Evolution strategy<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Genetic programming<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify\" start=\"5\">\n<li><b><i> Tahun 2000<\/i><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Perkembangan kecerdasan buatan yang ketiga bermula pada era 2000-an saat komputer dan internet sudah ada. Adapun produk-produk perkembangannya meliputi penemuan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">World Wide Web <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">atau WWW oleh Tim Berners-Lee pada 1989, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Internet of Things<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> oleh Kevin Ashton pada 1999, sistem <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">cloud<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang dimulai dari 1950 dan terus dikembangan hingga 1990-an, munculnya istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">big data<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> oleh John R. Mashey pada 1998, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">deep learning<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> oleh Geoffrey Hinton pada 2006.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">guest lecture <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">yang disampaikan Dr. Lukas tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa perkembangan AI terbagi menjadi empat bagian, yakni dimulai dari perkembangan teori, gelombang pertama yang menandai munculnya pemikiran untuk memberikan pengetahuan bagi mesin, gelombang kedua ketika mesin mulai mengolah data yang dimasukkan, serta gelombang ketiga saat internet telah ditemukan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Alhasil, kini AI telah berkembang jauh dan seiring dengan semakin canggihnya teknologi di masa depan, bukan tidak mungkin AI juga akan ikut tumbuh bersamanya.<\/span><\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Research in Machine Learning and Its Application\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/3y_WpDxmMmY?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Reference: <\/b><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=3y_WpDxmMmY\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=3y_WpDxmMmY<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Photo Credit: Tara Winstead (Pexels) Istilah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) muncul pertama kali pada 1956 dalam Konferensi Dartmouth. Namun, sebetulnya konsep kecerdasan buatan ini sudah ditanamkan jauh sebelum itu. Para ahli dari masa ke masa telah melakukan penelitian untuk terus mengembangkan kecerdasan buatan ini. Dr. Lukas selaku dosen di BINUS UNIVERSITY sekaligus ketua [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4248,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[20,158,269,270],"class_list":["post-4247","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","tag-ai","tag-kecerdasan-buatan","tag-sejarah-ai","tag-sejarah-kecerdasan-buatan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4247"}],"collection":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4247"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4247\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4247"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4247"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4247"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}