{"id":4530,"date":"2023-01-23T13:34:23","date_gmt":"2023-01-23T06:34:23","guid":{"rendered":"https:\/\/graduate.binus.ac.id\/?p=4530"},"modified":"2023-01-23T13:34:23","modified_gmt":"2023-01-23T06:34:23","slug":"7-cara-membentengi-diri-dari-orang-toxic-di-sekitar-kamu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/2023\/01\/23\/7-cara-membentengi-diri-dari-orang-toxic-di-sekitar-kamu\/","title":{"rendered":"7 Cara Membentengi Diri Dari Orang Toxic di Sekitar Kamu"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;margin: 0cm 0cm 7.0pt 0cm\"><span style=\"font-family: 'Cambria',serif;color: black\">Berinteraksi dengan <i>toxic<\/i> <i>people<\/i> bisa membuatmu mengalami banyak kerugian. Orang <i>toxic<\/i> biasanya punya kesulitan dalam merasakan kebahagiaan dalam hidup. Mereka bakal sering mengeluh, merasa tidak puas, dan resah. Keberadaan orang <i>toxic<\/i> bisa kamu temukan di mana saja, baik di lingkup pertemanan, rekan kerja, ataupun keluarga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;margin: 0cm 0cm 7.0pt 0cm\"><span style=\"font-family: 'Cambria',serif;color: black\">Agar tidak terpengaruh oleh pengaruh buruk orang <i>toxic<\/i> di sekitar, kamu perlu membentengi diri sendiri. Ada 7 tips yang perlu kamu lakukan sebagai upaya menghindari pengaruh negatif tersebut, yaitu:\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/graduate.binus.ac.id\/files\/2023\/03\/GAMBAR-BGP-MARAH-2-scaled.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-4531 aligncenter\" src=\"https:\/\/graduate.binus.ac.id\/files\/2023\/03\/GAMBAR-BGP-MARAH-2-768x523.jpg\" alt=\"\" width=\"414\" height=\"282\" \/><\/a><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;vertical-align: baseline;margin: 10.0pt 0cm 6.0pt 18.0pt\"><span style=\"font-size: 16.0pt;font-family: 'Cambria',serif;color: black\">1. Tetapkan Batasan<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;margin: 0cm 0cm 7.0pt 0cm\"><span style=\"font-family: 'Cambria',serif;color: black\">Kamu punya kontrol penuh ketika melakukan interaksi dengan orang lain. Untuk itu, kamu perlu meningkatkan kemampuan mengawasi perilaku orang-orang di sekitar. Amati apakah ada teman, saudara, atau rekan kerja yang mempunyai ciri-ciri orang <i>toxic<\/i>. Selanjutnya, kamu dapat menetapkan batasan dalam melakukan interaksi dengan mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;margin: 0cm 0cm 7.0pt 0cm\"><span style=\"font-family: 'Cambria',serif;color: black\">Saat berinteraksi dengan orang <i>toxic<\/i>, kamu memiliki kebebasan dalam bersikap. Ada kalanya kamu bisa mengikuti kemauan mereka. Namun, tidak ada salahnya kalau kamu melakukan penolakan secara tegas. Hal yang paling penting, pastikan kamu tetap menjaga kewaspadaan selama interaksi dengan mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;vertical-align: baseline;margin: 10.0pt 0cm 6.0pt 0cm\"><span style=\"font-size: 16.0pt;font-family: 'Cambria',serif;color: black\">2. Fokus Pada Solusi, Bukan Permasalahan<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;margin: 0cm 0cm 7.0pt 0cm\"><span style=\"font-family: 'Cambria',serif;color: black\">Tips kedua yang dapat kamu praktikkan untuk menghindari pengaruh buruk orang <i>toxic<\/i> adalah memfokuskan pikiran pada solusi, bukan masalah. Kalau kamu terus-menerus memikirkan masalah, kemungkinan besar akan menimbulkan stres dan emosi negatif. Sebaliknya, kalau pikiran terfokus pada solusi, kamu dapat memunculkan emosi yang positif dan sekaligus menurunkan tingkat stres.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;margin: 0cm 0cm 7.0pt 0cm\"><span style=\"font-family: 'Cambria',serif;color: black\">Cara seperti ini dapat kamu terapkan dengan cukup mudah ketika berhadapan dengan orang <i>toxic<\/i>. Hindari pemikiran tentang seberapa sulitnya ketika berhadapan dengan mereka. Pola pikir semacam itu malah akan membuatmu bisa dengan mudah didominasi oleh orang <i>toxic<\/i>. Sebagai gantinya, kamu bisa mencari pendekatan yang dewasa.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;vertical-align: baseline;margin: 10.0pt 0cm 6.0pt 0cm\"><span style=\"font-size: 16.0pt;font-family: 'Cambria',serif;color: black\">3. Jangan Mudah Terpengaruh Opini Orang Lain<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;margin: 0cm 0cm 7.0pt 0cm\"><span style=\"font-family: 'Cambria',serif;color: black\">Kamu akan sering merasa sakit hati ketika terus-menerus mendengar opini buruk yang dilontarkan oleh orang <i>toxic<\/i>. Apalagi, kata-kata dari orang <i>toxic<\/i> sering terdengar menyakitkan. Ingat, perkataan buruk tersebut merupakan upaya untuk menghindari rasa takut yang mereka rasakan di dalam hati. Jadi, kata-kata tersebut tidak perlu diambil hati.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;vertical-align: baseline;margin: 10.0pt 0cm 6.0pt 0cm\"><span style=\"font-size: 16.0pt;font-family: 'Cambria',serif;color: black\">4. Kontrol Emosi<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;margin: 0cm 0cm 7.0pt 0cm\"><span style=\"font-family: 'Cambria',serif;color: black\">Berhadapan dengan orang <i>toxic<\/i> merupakan kesempatanmu untuk belajar mengontrol emosi. Emosi, baik positif atau negatif, merupakan reaksi yang kamu perlihatkan terhadap sesuatu. Kamu mempunyai kontrol secara penuh terhadap reaksi tersebut. Kamu perlu belajar\u00a0 untuk menahan rasa marah dan perasaan negatif yang dapat menimbulkan stres.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;margin: 0cm 0cm 7.0pt 0cm\"><span style=\"font-family: 'Cambria',serif;color: black\">Kamu mungkin berpikir kalau cara terbaik dalam berhadapan dengan orang <i>toxic<\/i> adalah melawannya dengan tindakan serupa. Kamu memang bisa memilih untuk membalas mereka dengan rasa benci, kemarahan, dan semacamnya. Namun, cara seperti ini akan membuat sikapmu berubah. Tak menutup kemungkinan, hatimu akan tertutup oleh kegelapan dan perasaan negatif.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;vertical-align: baseline;margin: 10.0pt 0cm 6.0pt 0cm\"><span style=\"font-size: 16.0pt;font-family: 'Cambria',serif;color: black\">5. Tetap Berpikir Positif<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;margin: 0cm 0cm 7.0pt 0cm\"><span style=\"font-family: 'Cambria',serif;color: black\">Dalam kehidupan sehari-hari, kamu akan tetap berhadapan dengan orang-orang <i>toxic<\/i>. Mereka berusaha untuk membuatmu merasa kecewa dan sakit hati. Namun, jangan sampai sikap-sikap dari orang dengan perilaku beracun tersebut menghilangkan kemampuanmu dalam berpikir positif.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;margin: 0cm 0cm 7.0pt 0cm\"><span style=\"font-family: 'Cambria',serif;color: black\">Kamu perlu yakin bahwa tidak semua orang di sekitar adalah orang <i>toxic<\/i>. Ada banyak orang yang mempunyai hati baik. Kamu hanya perlu mengenali siapa saja yang termasuk dalam kategori orang <i>toxic<\/i> dan tidak.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;vertical-align: baseline;margin: 10.0pt 0cm 6.0pt 0cm\"><span style=\"font-size: 16.0pt;font-family: 'Cambria',serif;color: black\">6. Utamakan Diri Sendiri<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;margin: 0cm 0cm 7.0pt 0cm\"><span style=\"font-family: 'Cambria',serif;color: black\">Orang <i>toxic<\/i> punya kecenderungan untuk mencari perhatian dan berusaha membuatmu merasa bersalah. Hal kerap terjadi ketika mereka ingin mengajak atau meminta tolong kepada kamu. Biasanya, kamu mungkin merasa kesulitan dalam menolak ajakan atau permintaan tolong tersebut. Bahkan, kamu dapat merasa bersalah saat menolaknya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;margin: 0cm 0cm 7.0pt 0cm\"><span style=\"font-family: 'Cambria',serif;color: black\">Namun, kamu perlu tahu bahwa penolakan terhadap permintaan dari orang <i>toxic<\/i> perlu untuk dilakukan. Apalagi, kalau ajakan tersebut membuatmu merasa tidak nyaman. Dengan mengungkapkan keberanian untuk berkata \u2018tidak\u2019, kamu bisa memperbaiki kualitas kehidupanmu jadi lebih nyaman.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;vertical-align: baseline;margin: 10.0pt 0cm 6.0pt 0cm\"><span style=\"font-size: 16.0pt;font-family: 'Cambria',serif;color: black\">7. Ajak Bicara<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;margin: 0cm 0cm 7.0pt 0cm\"><span style=\"font-family: 'Cambria',serif;color: black\">Terakhir, kamu perlu mengutarakan rasa tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang <i>toxic<\/i>. Tindakan ini sangat penting sebagai upayamu dalam melakukan pembelaan diri. Ungkapkan dengan jujur perasaanmu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;margin: 0cm 0cm 7.0pt 0cm\"><span style=\"font-family: 'Cambria',serif;color: black\">Dalam situasi seperti itu, kemungkinan besar dia akan melakukan penyangkalan. Namun, paling tidak kamu telah melakukan apa yang bisa dilakukan. Orang tersebut bisa saja sadar kalau sikapnya membuatmu tak nyaman. Di waktu yang sama, tak menutup kemungkinan dia tidak akan berubah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;margin: 0cm 0cm 7.0pt 0cm\"><span style=\"font-family: 'Cambria',serif;color: black\">Nah, itulah 7 tips yang dapat kamu praktikkan dalam upaya membentengi diri dari orang <i>toxic<\/i>. Semoga bermanfaat, ya. **(KTS)<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berinteraksi dengan toxic people bisa membuatmu mengalami banyak kerugian. Orang toxic biasanya punya kesulitan dalam merasakan kebahagiaan dalam hidup. Mereka bakal sering mengeluh, merasa tidak puas, dan resah. Keberadaan orang toxic bisa kamu temukan di mana saja, baik di lingkup pertemanan, rekan kerja, ataupun keluarga.\u00a0 Agar tidak terpengaruh oleh pengaruh buruk orang toxic di sekitar, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-4530","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4530"}],"collection":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4530"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4530\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4530"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4530"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4530"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}