{"id":4614,"date":"2023-05-04T15:20:17","date_gmt":"2023-05-04T08:20:17","guid":{"rendered":"https:\/\/graduate.binus.ac.id\/?p=4614"},"modified":"2023-05-04T15:20:17","modified_gmt":"2023-05-04T08:20:17","slug":"ketika-dituntut-menerima-kegagalan-ini-yang-harus-kamu-lakukan-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/2023\/05\/04\/ketika-dituntut-menerima-kegagalan-ini-yang-harus-kamu-lakukan-2\/","title":{"rendered":"Ketika Dituntut Menerima Kegagalan, Ini yang Harus Kamu Lakukan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400\">Kita semua pernah mengalami hari yang buruk\u2014entah itu ban mobil yang bocor di tengah jalanan sepi atau ujian yang gagal. Kita juga pasti pernah merasa ingin mencapai sesuatu, tetapi pada akhirnya harus mengalah pada kegagalan. Ada di antara kita yang terpuruk dalam waktu lama, dan ada juga yang bisa bangkit segera setelah kegagalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada dasarnya, orang yang termasuk golongan kedua tidak lebih baik daripada golongan pertama. Mereka hanya punya kebiasaan dan keterampilan positif yang membantu mereka mengatasi kegagalan dan mengubahnya menjadi pengalaman yang lebih positif. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang mengubah kegagalan itu sebagai langkah untuk belajar dan memperbaiki diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kalau kamu dihadapkan pada kegagalan dan tidak ada hal lain yang bisa kamu lakukan, maka kamu harus menerimanya dengan beberapa cara ini:<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/graduate.binus.ac.id\/files\/2023\/04\/GAMBAR-SPLASH-26-scaled.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-4615 aligncenter\" src=\"https:\/\/graduate.binus.ac.id\/files\/2023\/04\/GAMBAR-SPLASH-26-768x505.jpg\" alt=\"\" width=\"549\" height=\"361\" \/><\/a><\/p>\n<h2><b>Terima Kenyataan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ketika kegagalan menghampirimu, pahami segera bahwa situasi yang terjadi adalah di luar kendalimu. Apa pun emosi yang kamu rasakan, terimalah. Namun ingat, jangan membiarkannya bersarang terlalu lama dalam pikiranmu. Makin cepat kamu menghentikan perasaan marah dan kesalmu, makin cepat kamu menjadikan kegagalan itu sebagai pelajaran dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">move on<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jangan Baper<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Salah satu alasan seseorang menganggap kegagalan adalah sesuatu yang menghancurkan mereka adalah karena dirinya identik dengan kesuksesan. Dengan kata lain, ketika mengalami kegagalan, dia akan melihat dirinya sebagai kegagalan itu sendiri. Saat gagal, mereka merasa itu adalah sebuah kemunduran bagi diri mereka saat ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Cobalah untuk tidak terlalu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">baper<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dengan kegagalan dan kesuksesan yang kamu punya. Gagal dan sukses itu hanya sebuah peristiwa yang tidak akan mengubah nilai dan diri kamu sebenarnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jangan Terlalu Memikirkan Apa yang Dikatakan Orang Lain<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kadang pandangan kita tentang gagal dan sukses itu berhubungan dengan pandangan orang terhadap diri kita. Ketika banyak orang beranggapan kamu baru sukses saat bisa menjadi lulusan terbaik, kamu berpikir kalau kamu harus memenuhi ekspektasi itu supaya tidak dianggap gagal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kamu tidak bisa mengontrol apa yang dipikirkan orang lain. Kamu juga tidak perlu melakukan sesuatu hanya karena orang lain menganggap itu keren. Lebih mudah menerima kesuksesan dan kegagalan kalau kamu sendiri yang menentukan definisinya. Raihlah sesuatu karena kamu ingin meraihnya, bukan karena kamu pikir orang akan merasa terkesan kalau kamu mendapatkannya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jangan Terlalu Menyalahkan Diri Sendiri, Apalagi Orang Lain<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kamu mungkin pernah bertemu dengan orang yang ketika berhadapan kegagalan, mereka mencari cara untuk menyalahkan orang lain. \u201cDosennya pilih kasih!\u201d, \u201cWasitnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">bias<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">!\u201d, dan alasan-alasan lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Penting untuk mengenali kapan faktor eksternal memengaruhi kesuksesan kamu. Kamu juga tidak perlu dan tidak boleh menyalahkan diri sendiri juga. Terima kalau apa yang terjadi itu di luar kendalimu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Namun, penting juga untuk mengetahui hal apa yang bisa kamu lakukan untuk tidak mengulangi kegagalan yang sama lagi. Misalnya, apakah kamu bisa belajar lebih keras? Apakah kamu cukup serius dalam latihan dan lain sebagainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Bertanggung jawablah pada faktor-faktor yang memang bisa kamu kendalikan. Jangan pernah tergoda untuk bersembunyi di balik alasan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jadikan Kegagalan Sebagai Cara untuk Berkembang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jangan anggap kegagalan itu adalah kegagalan. Alih-alih, anggaplah itu sebagai cara untuk membuat dirimu berkembang menjadi lebih baik lagi. Cobalah tanyakan pada dirimu sendiri hal berbeda apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaikinya. Selanjutnya, cari tahu bagaimana cara kamu untuk menjadi lebih baik lagi nantinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kegagalan memang kadang tidak bisa dihindari. Yang perlu kamu lakukan adalah memandang kegagalan dari perspektif dan pendekatan yang berbeda. Percayalah, hasilnya juga akan berbeda. **(KTS)<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kita semua pernah mengalami hari yang buruk\u2014entah itu ban mobil yang bocor di tengah jalanan sepi atau ujian yang gagal. Kita juga pasti pernah merasa ingin mencapai sesuatu, tetapi pada akhirnya harus mengalah pada kegagalan. Ada di antara kita yang terpuruk dalam waktu lama, dan ada juga yang bisa bangkit segera setelah kegagalan. Pada dasarnya, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4616,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,11],"tags":[],"class_list":["post-4614","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4614"}],"collection":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4614"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4614\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4614"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4614"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4614"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}