{"id":4701,"date":"2023-06-05T16:38:26","date_gmt":"2023-06-05T09:38:26","guid":{"rendered":"https:\/\/graduate.binus.ac.id\/?p=4701"},"modified":"2023-06-05T16:38:26","modified_gmt":"2023-06-05T09:38:26","slug":"mengenal-fenomena-podcast-youtube-beda-dari-podcast-biasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/2023\/06\/05\/mengenal-fenomena-podcast-youtube-beda-dari-podcast-biasa\/","title":{"rendered":"Mengenal Fenomena Podcast YouTube, Beda dari Podcast Biasa?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400\">Saat membuka YouTube, pernahkah Anda melihat konten di mana dua orang sedang duduk berhadapan dengan masing-masing mikrofon mengarah ke wajah mereka? Kemungkinan besar video tersebut merupakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">YouTube yang memang naik daun belakangan ini. Jika dibandingkan dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">biasa, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">di YouTube memiliki beberapa perbedaan. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sekilas tentang Podcast\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400\">Podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">adalah siaran audio yang bisa diakses melalui situs web atau platform lain, termasuk YouTube. Kalau melihat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">output <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">kontennya yang berupa audio, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">memang mirip dengan radio. Namun, berbeda dari radio yang topik kontennya lebih umum, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">biasanya fokus pada satu topik yang dibahas melalui sejumlah episode.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Nah, topik yang disiarkan pun beragam, mulai dari topik kesehatan, karier, bisnis, budaya pop, bahkan hingga cerita horor. Menariknya lagi, konten dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">juga umumnya dibawakan secara kasual sehingga pendengar pun tidak merasa bosan.<\/span> <span style=\"font-weight: 400\">Tidak mengherankan jika kini <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">begitu populer hingga melahirkan berbagai jenis baru seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">YouTube.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Namun, popularitas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">memiliki perjalanan cukup panjang yang dimulai pada era 1980-an. Saat itu, seorang mantan VJ MTV Amerika dan mantan penyiar, Adam Curry, mengeluh soal keterbatasan konten bagi para penyiar. Curry dibantu oleh seorang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">software developer <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">bernama Dave Winer berhasil menciptakan inovasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">yang kita kenal sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sebetulnya, istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">sendiri bukan dicetuskan oleh Curry dan Winer. Ketika itu, seorang jurnalis Amerika bernama Ben Hammersley menulis artikel dengan menyebut istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">yang merupakan singkatan dan iPod dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">broadcast. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">Sejak itulah istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">semakin populer hingga pernah menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">word of the year <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">pada Oxford English Dictionary. Puncaknya adalah pada akhir tahun 2005 ketika ribuan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">baru bermunculan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Lantas, bagaimana <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">bisa masuk ke Indonesia?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Perkembangan Podcast di Indonesia\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dari ribuan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">baru yang muncul pada tahun 2005 tersebut, salah satunya adalah \u2018Apa Saja Podcast\u2019 milik Boy Avianto. Ia mengunggah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">tersebut pada platform Blogspot. Perlahan tapi pasti, popularitas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">di Indonesia pun meningkat, terlebih sejak kehadiran platform SoundCloud pada 2008.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Berkat SoundCloud, aktivitas membuat dan mendengarkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">pun jadi lebih mudah dan praktis. Apalagi ditambah dengan berkembangnya internet, konten <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">semakin meluas di kalangan masyarakat Indonesia. Sejak itu, muncul banyak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcaster <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">tanah air seperti Iqbal Hariadi (Podcast Subjective) pada 2015. Lalu pada 2016, hadir Adriano Qalbi dengan Podcast Awal Minggu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dengan banyaknya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">yang bermunculan, tidak mengherankan jika Indonesia sampai menjadi<\/span><a href=\"https:\/\/databoks.katadata.co.id\/datapublish\/2022\/02\/08\/pendengar-podcast-indonesia-terbesar-ke-2-di-dunia\"> <span style=\"font-weight: 400\">negara dengan pendengar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">terbanyak ke-2 di dunia<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">, dengan persentase 35,6% dari total pengguna internet berusia 16-64 tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Fakta Menarik tentang Podcast\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Tingginya popularitas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">di Indonesia tentu bukan tanpa alasan. Keragaman genre konten menjadi salah satu faktor utama; pendengar jadi bisa bebas memilih konten sesuai preferensi masing-masing. Mayoritas dari mereka merupakan kelompok usia muda. Menurut<\/span><a href=\"https:\/\/databoks.katadata.co.id\/datapublish\/2021\/03\/10\/anak-muda-dominasi-jumlah-pendengar-podcast-di-indonesiapendengar-podcast-di-indonesia-didominasi-anak-muda\"> <span style=\"font-weight: 400\">hasil riset Jakpat<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">, 22,2% pendengar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">di Indonesia berusia 20-24 tahun, lalu sebanyak 22,1% lainnya berusia 15-19 tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Walau sangat populer di Indonesia, bukan berarti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">akan menggeser kehadiran radio. Bentuk konten keduanya memang sama, yakni audio, tapi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">bukanlah ancaman bagi eksistensi radio. Jangkauan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">yang luas memang tidak terlepas dari internet, tapi kini radio pun juga mulai menyediakan layanan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">streaming <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">siaran mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Selain keragaman konten, kemudahan akses juga menjadi alasan lain di balik popularitas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">Pendengar bisa mengakses konten <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">dari banyak platform, seperti SoundCloud, Spotify, Apple Music, hingga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">YouTube yang akhir-akhir ini mencuri perhatian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Perbedaan Podcast YouTube dengan Umumnya\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Konten <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">di YouTube sebetulnya tidak berbeda dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">pada umumnya. Hanya saja, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">YouTube terbagi menjadi dua jenis, yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">audio podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">video podcast. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">Jika Anda pernah menemukan konten <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">hanya dalam bentuk audio di YouTube, itulah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">audio podcast.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada platform audio lain, seperti Spotify atau SoundCloud, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar karena keutamaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">memang terletak pada konten audionya. Namun, kita tahu bahwa YouTube umumnya dipakai untuk berbagi konten video. Hal inilah yang membuat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">YouTube cukup unik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di sisi lain, ada pula <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">video podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">yang tak hanya memberikan konten audio, tapi juga menampilkan video <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcaster <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">atau narasumber ketika sedang mengobrol. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Video podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">tentu rasanya lebih pas untuk diunggah ke YouTube jika mengingat fungsi platform tersebut selama ini. Namun, benarkah begitu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Untuk mengetahui jawabannya, tidak ada salahnya untuk melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">testing. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">Coba unggah beberapa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">dalam bentuk audio maupun video ke kanal YouTube Anda. Cek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">traffic <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">selama beberapa minggu, kira-kira bentuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">mana yang lebih banyak didengarkan. Dari sini, Anda bisa mengembangkan konten <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">serupa untuk menjaring lebih banyak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">traffic.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">Dengan sifat platform yang menitikberatkan pada konten video, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">YouTube dalam bentuk video dapat memberikan angin segar bagi para pendengar Anda. Namun, bukan berarti Anda harus mengabaikan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">audio podcast. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">Anda bisa tetap mengunggahnya ke platform audio lain seperti Spotify atau Apple Music untuk meningkatkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">exposure <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">konten <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">podcast <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">Anda.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat membuka YouTube, pernahkah Anda melihat konten di mana dua orang sedang duduk berhadapan dengan masing-masing mikrofon mengarah ke wajah mereka? Kemungkinan besar video tersebut merupakan podcast YouTube yang memang naik daun belakangan ini. Jika dibandingkan dengan podcast biasa, podcast di YouTube memiliki beberapa perbedaan. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan podcast di Indonesia. Sekilas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4702,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-4701","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4701"}],"collection":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4701"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4701\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4701"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4701"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4701"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}