{"id":4930,"date":"2023-11-27T12:12:10","date_gmt":"2023-11-27T05:12:10","guid":{"rendered":"https:\/\/graduate.binus.ac.id\/?p=4930"},"modified":"2023-11-27T12:12:10","modified_gmt":"2023-11-27T05:12:10","slug":"kupas-tuntas-stoikisme-untuk-hidup-tahan-banting","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/2023\/11\/27\/kupas-tuntas-stoikisme-untuk-hidup-tahan-banting\/","title":{"rendered":"Kupas Tuntas Stoikisme untuk Hidup Tahan Banting"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400\">Belakangan ini Anda mungkin sering mendengar istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">stoicism <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai stoikisme. Ini merupakan salah satu paham filsafat ciptaan Zeno dari Citium, Chrysippus dari Soli, serta Cleanthes dari Assos yang bagus untuk membentuk mental santai di era digital seperti sekarang. Memangnya, apa arti dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">stoicism<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">? Temukan ulasan lengkapnya di sini!<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400\">Apa Itu Stoikisme?<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kepopuleran stoikisme bukan tanpa sebab karena paham ini bisa dibilang memberi ketenangan bagi para penganutnya di tengah cobaan hidup yang cukup berat. Bagaimana bisa? Paham ini membuat Anda tak hanya fokus pada penderitaan hidup semata, melainkan juga mensyukuri apa pun yang telah diterima pada hari tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Para penganut paham filsafat satu ini disebut sebagai Stoic. Untuk menjadi seorang Stoic, Anda perlu memisahkan mana saja hal-hal yang bisa dikontrol dan tidak. Kemudian, pastikan bahwa hal-hal yang berada di luar kendali Anda mestinya tak perlu dipusingkan secara berlebihan, sehingga Anda bisa lebih fokus pada hal-hal yang berada dalam kendali Anda.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400\">Poin Penting Ajaran Stoikisme<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Perlu untuk Anda ketahui bahwa stoikisme itu mengajarkan manusia untuk memisahkan dimensi internal dengan dimensi eksternal (dikotomi kendali). Berikut detail lengkapnya!<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-weight: 400\">1. Fokus pada hal yang bisa dikendalikan<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Karena sejak awal sudah fokus untuk memisahkan mana hal-hal yang bisa dikontrol atau tidak, Anda mestinya akan lebih fokus pada hal yang bisa dikendalikan. Melakukan upaya ini tentunya baik untuk kondisi kesehatan mental, sebab Anda tak perlu sering stres ketika banyak peristiwa yang terjadi di luar ekspektasi.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-weight: 400\">2. Harapkan yang terbaik, tapi antisipasi hal terburuk<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Prinsip stoikisme juga mengajarkan seseorang supaya lebih <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">legowo <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">dalam menerima seluruh kejadian dalam hidup. Seorang Stoic biasanya akan mengharapkan hasil terbaik dengan tetap mengantisipasi hal terburuk. Dengan begini, Anda bisa menetapkan ekspektasi agar selalu berada di tengah, tidak terlalu ke atas dan tidak terlalu ke bawah.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-weight: 400\">3. Memento mori<\/span><\/h3>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400\">Memento mori <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">adalah bahasa Yunani yang artinya mengingat kematian. Ini juga menjadi salah satu ajaran stoikisme yang akan membantu seorang Stoic untuk memikirkan, mengucapkan, dan melakukan hal-hal baik. Dengan mengingat kematian secara tepat, Anda jadi bisa menjadi versi terbaik bagi sesama.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-weight: 400\">4. Hargai semua hal di sekitar<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Mengapresiasi semua hal di sekitar Anda juga akan memberikan kesadaran yang baik. Ini pun bisa menumbuhkan kecintaan akan takdir yang Anda jalani. Selain itu, mencintai hal-hal di sekitar juga akan membuat hidup Anda terasa lebih positif. Pada akhirnya, Anda bisa memahami sesuatu dengan sudut pandang lebih luas.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400\">Cara Menerapkan Stoikisme dalam Keseharian<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Apakah Anda tertarik menjadi seorang Stoic? Tenang, menerapkan prinsip hidup stoikisme itu tidak terlalu sulit, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">kok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Coba saja menerapkan hal-hal sederhana ini dalam keseharian.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-weight: 400\">1. Terima hal yang tidak bisa diubah<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Salah satu prinsip <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">stoicism <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">amor fati <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(mencintai takdir) sebagaimana filsuf Epictetus yang menimpa banyak kemalangan. Untuk itu, Anda bisa mulai menirunya dengan tidak mengharapkan sesuatu berjalan sesuai keinginan Anda, melainkan berharaplah supaya sesuatu terjadi sebagaimana mestinya.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-weight: 400\">2. Selalu persiapkan diri dengan matang<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi hal-hal buruk tentu menjadi penting. Ini juga sesuai dengan prinsip <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">stoicism <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">tentang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">premeditatio molarum <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(melatih kemalangan). Dengan melatih menerima kemalangan, mental Anda akan lebih siap ketika suatu kedukaan yang sesungguhnya menimpa.\u00a0<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-weight: 400\">3. Buat rutinitas menulis jurnal<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Menulis jurnal juga bisa menjadi latihan spesifik bagi seorang Stoic pemula, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">lho<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Tak hanya menumpahkan emosi dengan menulis tangan, jurnal juga membuat seseorang teringat akan segala kemalangan yang pernah terjadi sekaligus membuktikan bahwa dirinya bisa bertahan sampai sekarang. Jurnal pun dapat Anda isi dengan rencana dan kata-kata bijak.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-weight: 400\">4. Kontrol reaksi emosional<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Supaya bisa memisahkan segala sesuatu di semesta ini ke dalam dimensi internal dan eksternal, Anda perlu melatih emosi saat menghadapi masalah. Usahakan sebisa mungkin untuk mengontrol reaksi emosional karena tidak ada hal yang permanen dalam hidup ini, baik itu kabar gembira maupun kabar duka sekalipun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ternyata stoikisme itu punya dampak yang baik untuk membentuk mental yang tangguh, bukan? Mulailah perjalanan Anda menjadi seorang Stoic dengan menerapkan empat hal di atas, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">yuk<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">! Tak perlu tergesa-gesa, buatlah perubahan minor setiap harinya agar cita-cita besar bisa tercapai pada akhirnya. Selamat mencoba!<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Belakangan ini Anda mungkin sering mendengar istilah stoicism atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai stoikisme. Ini merupakan salah satu paham filsafat ciptaan Zeno dari Citium, Chrysippus dari Soli, serta Cleanthes dari Assos yang bagus untuk membentuk mental santai di era digital seperti sekarang. Memangnya, apa arti dari stoicism? Temukan ulasan lengkapnya di sini! Apa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4931,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,11],"tags":[],"class_list":["post-4930","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4930"}],"collection":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4930"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4930\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4930"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4930"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4930"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}