{"id":5029,"date":"2024-03-10T17:48:09","date_gmt":"2024-03-10T10:48:09","guid":{"rendered":"https:\/\/graduate.binus.ac.id\/?p=5029"},"modified":"2024-03-10T17:48:09","modified_gmt":"2024-03-10T10:48:09","slug":"revolusi-digital-strategi-baru-dalam-membangun-startup-perikanan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/2024\/03\/10\/revolusi-digital-strategi-baru-dalam-membangun-startup-perikanan-indonesia\/","title":{"rendered":"Revolusi Digital, Strategi Baru dalam Membangun Startup Perikanan Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Indonesia merupakan negara dengan perairan terluas keempat di dunia sehingga tak mengherankan kalau sektor perikanan diharapkan menjadi salah satu tulang punggung perekonomian. Dengan kemajuan teknologi yang pesat, seharusnya perusahaan rintisan atau <em>startup<\/em> perikanan menjadi nadi yang mendenyutkan produksi perikanan dalam negeri.<\/p>\n<p>Pada kenyataannya, jumlah perusahaan rintisan di bidang perikanan masih lambat jika dibandingkan dengan sektor-sektor lain. Tercatat, dari 2.193 perusahaan <em>startup<\/em> yang ada di Indonesia, hanya 32 di antaranya yang menekuni bidang kelautan dan perikanan\u200b.<\/p>\n<p>Angka tersebut kini naik menjadi sekitar 50 <em>startup<\/em>. Hal ini diungkapkan oleh Gunawan Wang, dosen program Magister Manajemen Sistem Informasi (MMSI), Binus Graduate Program (BGP), BINUS University.<\/p>\n<p>\u201cNah pengakuan dari praktisi, meskipun akan ditambah 200 <em>startup<\/em> lagi, pasarnya tidak akan mengecil. Jadi kita bisa membayangkan, menambah 200 <em>startup<\/em> baru lagi dalam setahun saja, pasarnya itu masih terlalu besar,\u201d kata Gunawan dalam wawancara daring, Rabu (20\/12\/2023).<\/p>\n<p>Alasannya, menurut dia, mayoritas masyarakat Indonesia lebih terbiasa mengkonsumsi ayam daripada ikan. Padahal, Gunawan menekankan jika perilaku ini bisa diubah, potensi pasarnya menjadi sangat luar biasa\u2013mengingat jumlah penduduk kita yang mencapai 280 juta orang.<\/p>\n<p>\u201cBelum lagi kita bicara tentang ekspor perikanan. Walaupun sekarang Indonesia sudah menempati eksportir perikanan, kalau tidak salah peringkat kedua atau ketiga dunia, tapi masih punya potensi yang sangat besar sekali. Karena negara perikanan itu tidak banyak, bisa dihitung dengan jari,\u201d lanjut dia.<\/p>\n<p>Untuk mencapai potensi tersebut, Gunawan menyebutkan bahwa <em>startup<\/em> bisa memfasilitasi, terutama untuk meningkatkan skala dan efisiensi budidaya ikan yang berorientasi ke level industri dengan bantuan teknologi.<\/p>\n<p>\u201cSupaya <em>mindset<\/em> petani ikan itu kalau budidaya jangan hanya lokal saja, jangan yang penting bisa hidup sehari-hari. Tapi sudah berorientasi ke industri. Untuk unggas kita bisa skala industri, kok ikan masih sedikit,\u201d ujar dia.<\/p>\n<p><strong>Mempercepat adopsi teknologi<\/strong><\/p>\n<p>Menurut Gunawan, setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan adopsi teknologi di bidang perikanan berjalan lebih lambat ketimbang sektor lain. Pertama, mayoritas SDM di perikanan masih belum melek teknologi, terutama para nelayan dan pembudidaya ikan yang kebanyakan masih bergantung kepada metode tradisional.<\/p>\n<p>\u201cYang kedua, tren teknologi terbaru ini sering kali tidak terekspos. Nelayan kita masih tradisional, dari dulu pakemnya begitu-begitu aja. Kalau satu kolam panennya hanya satu kuintal, ya segitu aja, jangan aneh-aneh. Padahal kalau dengan teknologi terbaru mungkin hasilnya bisa 10 kuintal,\u201d ucap Gunawan.<\/p>\n<p>Dia pun menyebut beberapa teknologi yang bisa membantu meningkatkan produksi ikan, seperti Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI). Teknologi-teknologi ini memainkan peran penting, misalnya untuk meningkatkan kualitas bibit ikan.<\/p>\n<p>\u201cDari hasil survey, ternyata kalau mendapat bibit ikan yang kurang baik, bisa boros. Jadi konsumsi makannya banyak. Kedua, waktu berkembangnya lambat dan hasilnya sedikit. Jadi setelah beberapa bulan ketika harusnya panen, hasil ikannya kecil-kecil,\u201d Gunawan bercerita.<\/p>\n<p>Padahal, mereka bisa mendapatkan bibit ikan yang berkualitas tinggi dan menghasilkan produksi ikan yang berlimpah. Teknologi modern, misalnya sensor untuk mengukur faktor-faktor lingkungan seperti suhu air, kelembaban, kadar oksigen, nitrogen, ammonia, dan pergerakan ikan, memainkan peran vital.<\/p>\n<p>Data yang dikumpulkan dari sensor-sensor tersebut kemudian digunakan untuk mendeteksi perkembangan ikan, menentukan jumlah pakan, dan antibiotik yang optimal, serta membantu memastikan lingkungan yang sehat bagi ikan.<\/p>\n<p>\u201cMungkin satu tempat budidaya dengan tempat lain itu bisa berbeda. Misalnya, kita budidaya ikan di Palmerah dengan di Bekasi atau di Puncak itu kan punya karakteristik berbeda. Selama ini kan tidak terdeteksi,\u201d papar dia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Bersandar pada data, bukan insting<\/strong><\/p>\n<p>Dengan berfokus pada data, pembudidaya ikan bisa meminimalisir kesalahan dan pemborosan, serta memastikan pertumbuhan yang efisien dan sehat bagi ikan. Oleh karenanya, teknologi seharusnya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam budidaya ikan.<\/p>\n<p>\u201cSekarang kan zamannya kita bicara <em>by data<\/em>, bukan <em>by instinct<\/em>. Karena kalau insting itu kan banyak kesalahan. Harus bicara berdasarkan data. Nah datanya dari mana? Ya dari kita monitor harian, mingguan, bulanan, sampai waktu panen,\u201d Gunawan menegaskan.<\/p>\n<p>Data yang sudah terkumpul tersebut bisa dipelajari dan dikembangkan untuk skala yang lebih besar lagi. Misalnya berawal dari 5 kolam. Dalam jangka waktu 6 bulan dipelajari dan ketika berhasil, skalanya bisa ditingkatkan menjadi 50 kolam, lalu 100 kolam, dan seterusnya.<\/p>\n<p>\u201cJadi memang penting sekali supaya kita tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Di era saat ini, bukan lagi mengandalkan insting, melainkan berbasis data,\u201d lanjut dia.<\/p>\n<p>Terlebih lagi, teknologi semakin lama semakin terjangkau sehingga biaya untuk budidaya ikan skala industri bisa ditekan serendah-rendahnya. Keuntungan-keuntungan tersebut lah yang menurut Gunawan belum tersampaikan dengan baik kepada para nelayan dan pembudidaya ikan lokal.<\/p>\n<p><strong>Kolaborasi multidisiplin ilmu<\/strong><\/p>\n<p>Untuk membangun kekuatan sektor perikanan yang kuat, Indonesia perlu menelurkan lebih banyak perusahaan rintisan yang sudah dipersenjatai dengan teknologi. Oleh sebab itu, Gunawan menekankan pentingnya kolaborasi dalam mengembangkan bisnis di era digital, tak terkecuali sektor perikanan.<\/p>\n<p>\u201cTentunya tidak bisa SDM perikanan itu semuanya hanya yang ngerti perikanan. Sekarang ada multidisiplin. Jadi memang kita perlu duduk bareng, perlu menyelesaikan masalah perikanan seperti apa. Kontribusi dari berbagai sudut pandang ilmu yang berbeda,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Pebisnis memang perlu memahami metode budidaya ikan secara mendetail, dari pembibitan hingga panen. Di sisi lain, pengetahuan tentang teknologi juga penting.<\/p>\n<p>\u201cKarena kita akan berbasis ke bisnis, tentu pengetahuan bisnis juga penting. Jadi mengatur <em>supply chain<\/em>-nya bagaimana, strategi pemasarannya bagaimana, dan seterusnya,\u201d ujar Gunawan.<\/p>\n<p>Tiga kombinasi disiplin ilmu tersebut\u2014perikanan, teknologi, dan bisnis manajemen\u2014akan menjadi kekuatan untuk membangun <em>startup<\/em> yang sukses. Indonesia membutuhkan SDM yang bisa menguasai kompetensi ini jika kita ingin memajukan sektor perikanan.<\/p>\n<p>Munculnya kebutuhan tersebut pun mendorong BINUS University, tepatnya program studi Magister Manajemen Sistem Informasi di Binus Graduate Program, untuk berkolaborasi dengan Universitas Padjadjaran dalam menghadirkan program Master of Digital Business Fisheries, atau dikenal juga sebagai Magister Bisnis Digital Perikanan.<\/p>\n<p>Tujuan utama program itu adalah untuk memperkaya SDM Indonesia dengan keahlian dan pengetahuan yang esensial untuk mencapai kesuksesan di zaman digital, khususnya di sektor perikanan.<\/p>\n<p>\u201cSudah pasti Unpad itu jagolah tentang semua seluk beluk perikanan karena memiliki pengalaman yang lama di situ. Nah BINUS membantu dari segi teknologi. Karena kami kan kekuatannya di bidang teknologi ya\u2014BINUS punya laboratorium AI bersama Alibaba dan Huawei,\u201d dia mengungkapkan.<\/p>\n<p>Selain itu, Gunawan menyebutkan bahwa BINUS University juga memiliki pengalaman kuat di bidang bisnis manajemen, bahkan sampai diakui secara internasional. Tercatat, Binus Business School telah terakreditasi AACSB oleh The Association to Advance Collegiate Schools of Business.<\/p>\n<p>\u201cDengan kombinasi antara tiga ilmu ini, tentunya akan menghasilkan profesional yang paham cara memulai <em>startup<\/em> di bidang perikanan dan mengelola bisnis perikanan. Kompetensi ini menjadi <em>value added<\/em> bagi praktisi di lulusan perikanan,\u201d ucap Gunawan saat menutup percakapan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia merupakan negara dengan perairan terluas keempat di dunia sehingga tak mengherankan kalau sektor perikanan diharapkan menjadi salah satu tulang punggung perekonomian. Dengan kemajuan teknologi yang pesat, seharusnya perusahaan rintisan atau startup perikanan menjadi nadi yang mendenyutkan produksi perikanan dalam negeri. Pada kenyataannya, jumlah perusahaan rintisan di bidang perikanan masih lambat jika dibandingkan dengan sektor-sektor [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5030,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,11],"tags":[],"class_list":["post-5029","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5029"}],"collection":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5029"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5029\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5029"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5029"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beta.binus.ac.id\/bgp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5029"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}